Analis SIA: Emas Kemungkinan Stagnan 3–6 Bulan, The Fed Tahan Suku Bunga Hingga September

Analis SIA: Emas Kemungkinan Stagnan 3–6 Bulan, The Fed Tahan Suku Bunga Hingga September

Harga emas sedang dalam mode “sortir diri”. Begitu kira-kira ungkapan Colin Cieszynski, kepala strategi pasar SIA Wealth Management, kepada Kitco News pada Jumat (28/7). Menurutnya, kombinasi antara ketidakpastian inflasi, perang Iran yang terus bergejolak, dan The Fed (bank sentral Amerika Serikat) yang kemungkinan besar tidak akan bergerak hingga September membuat emas sulit untuk breakout ke satu arah secara tegas dalam waktu dekat.

"Emas sudah naik luar biasa besar. Saya rasa banyak faktor perang sudah masuk ke harga, tapi koreksi dari $5.500 ke $4.000 belum sepenuhnya menghilangkan sentimen perang itu," ujar Cieszynski. "Ditambah lagi, ada kekhawatiran bahwa inflasi bisa mulai naik lagi kalau harga minyak terus merangkak. Kalau itu terjadi, dolar AS bisa menguat — dan itu justru menjadi hambatan bagi emas."

Cieszynski saat ini menyatakan posisi netral terhadap emas. Artinya, ia tidak menyarankan untuk agresif membeli maupun menjual di level saat ini. Kisaran yang ia pantau untuk pekan ini adalah $3.960–$4.170 per troy ounce (setara sekitar Rp2,1–Rp2,2 juta per gram dengan kurs saat ini). Selama harga bergerak dalam rentang itu, ia memperkirakan belum ada katalis besar untuk mendorong emas keluar dari zona konsolidasi.

Soal rapat FOMC (komite kebijakan moneter AS) yang dijadwalkan Rabu ini, Cieszynski tidak berharap banyak. Ia menduga The Fed akan menahan suku bunga dan memilih untuk “mengulur waktu” hingga pertemuan September. “Saya pikir mereka akan memberikan semua orang waktu selama musim panas ini. Rapat September akan jauh lebih penting — di situlah mereka bisa mulai mengeluarkan proyeksi dan sinyal yang lebih jelas,” katanya.

Satu faktor tambahan yang turut membekukan langkah The Fed: pemilu paruh waktu (midterm elections) yang sudah di depan mata. “Jelas mereka tidak akan melakukan apa pun di rapat Oktober. Jadi semua perhatian tertuju ke September. Kalau ada sesuatu yang akan terjadi, itulah momentumnya,” tambah Cieszynski.

Apa artinya bagi investor emas lokal? Dalam jangka pendek, volatilitas mungkin akan mereda — tapi itu bukan berarti momentum sudah habis. Bagi yang punya posisi jangka panjang, fase konsolidasi seperti ini justru bisa menjadi kesempatan untuk menambah kepemilikan secara bertahap (cicil), bukan panik keluar. Pemantauan data inflasi AS dan sinyal The Fed di September akan jadi penentu arah emas berikutnya.

Ingin berdiskusi lebih lanjut soal strategi investasi emas di tengah kondisi pasar seperti ini? Kunjungi toko Anekalogam di Mall Artha Gading atau jelajahi koleksi lengkap kami di anekalogammulia.com.