Dilansir Kitco News, harga emas sudah mencatat lima minggu kenaikan beruntun. Di level sekitar $4.650 per ons troy, itu setara sekitar $149,5 per gram (1 ons troy = 31,1035 gram) dan ternyata angka ini masih di bawah rekor tertinggi yang sempat disentuh emas pada akhir Januari. Yang membuat momen ini menarik bukan cuma soal harga, tapi konteks di baliknya: yield obligasi yang melonjak dan utang pemerintah AS yang terus membengkak.
Yield obligasi Treasury 30 tahun sempat menyentuh 5,34% pekan lalu, mendekati level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Utang federal AS sendiri sudah menembus $40 triliun. Menariknya, pada 9 September nanti, Departemen Keuangan AS (Treasury) akan menggandakan program pembelian kembali obligasi jangka panjangnya, dari sekitar $2 miliar per operasi menjadi minimal $4 miliar. Ketika Treasury membeli kembali obligasinya sendiri, harga obligasi itu ikut terdorong naik, yang pada gilirannya menekan turun bunga yang harus dibayar pemerintah untuk obligasi berikutnya — Treasury menyebutnya sebagai "dukungan likuiditas". Felix Prehn, mantan bankir investasi yang kini mengedukasi investor ritel, punya tafsir sendiri yang lebih blak-blakan: menurutnya ini cara pemerintah menyuntikkan uang ke pasar tanpa harus disebut mencetak uang, mengingat sensitifnya publik pasca-COVID. Perlu digarisbawahi, ini murni pandangan pribadi Prehn — secara resmi Treasury menyatakan penerbitan obligasi baru akan menggantikan yang dibeli kembali, sehingga program ini semestinya tidak mengurangi utang yang dipegang investor swasta secara signifikan.
Yang justru bikin Prehn lebih khawatir adalah soal konsentrasi portofolio. Timnya rutin mengecek ribuan portofolio investor ritel sungguhan, jadi ia tahu persis isi portofolio orang, bukan sekadar asumsi. Menurutnya, rata-rata eksposur ke saham-saham AI itu sekitar 60-70%, sementara S&P 500 sendiri sudah sekitar 50% terisi oleh saham-saham terkait AI. Data independen mendukung pengamatan itu: 10 saham terbesar kini menguasai sekitar 40,8% dari indeks S&P 500, naik jauh dari sekitar 19% pada 1990, bahkan melampaui puncak gelembung dot-com yang sebesar 26,6%. Di level rumah tangga, data The Fed (bank sentral AS) mencatat saham mengambil porsi sekitar 41,6% dari total aset finansial rumah tangga AS per awal 2024 — itu pun belum menghitung nilai rumah — angka ini melampaui puncak era dot-com yang "hanya" 38,4%. Ironinya, banyak orang membeli emas fisik justru karena tidak percaya penuh pada sistem keuangan, tapi porsi terbesar kekayaan mereka tetap terparkir di salah satu pasar saham paling terkonsentrasi yang pernah tercatat. "Ini semacam La La Land. Valuasi kita sudah melampaui apa pun yang pernah kita lihat — dot-com, 2008, 1929," katanya, meski ia buru-buru menambahkan ini bukan ramalan kiamat: "Bukan berarti crash akan terjadi besok. Saya bukan salah satu yang selalu meramalkan kehancuran."
Soal fungsi emas sendiri, Prehn blak-blakan: "Emas itu bukan naik, dolarnya yang turun. Jadi emas melindungi kita, tapi tidak benar-benar membuat kita kaya." Ia menyamakannya dengan asuransi mobil — bikin tidur lebih nyenyak, bukan alat untuk menumbuhkan kekayaan. Ini juga menjelaskan kenapa banyak orang yang membeli emas saat harga memuncak di Januari lalu kini masih menunggu harga kembali impas setelah sempat tertekan 20-30%; menurutnya, lonjakan harga minyak akibat perang Iran mendorong inflasi dan yield obligasi naik, sehingga dana institusional berpindah dari emas yang tak memberi imbal hasil ke obligasi pemerintah yang menawarkan bunga sekitar lima persen lebih. Untuk perak, ia melihat horizon lebih pendek dengan volatilitas lebih besar, ditopang permintaan industri yang menurutnya nyata untuk kebutuhan AI. Di saham tambang, arus kas produsen emas seperti Newmont ($2,2 miliar) dan Agnico Eagle (lebih dari $1,3 miliar) mencetak rekor, dan indeks GDX naik sekitar 14% sejak 12 Agustus, meski menurutnya siklus pembukaan tambang baru yang bisa 15 tahun lebih membuat pasokan tidak serta-merta bertambah.
Yang jelas, kisah emas bulan ini bukan cuma soal harga menembus level tertinggi sejak 1999, tapi juga pengingat untuk mengecek ulang komposisi portofolio kita sendiri. Kalau Anda penasaran dengan pergerakan harga emas hari ini atau ingin ngobrol santai soal alokasi aset, mampir saja ke Anekalogam di Mall Artha Gading atau kunjungi anekalogammulia.com