Emas Jadi Senjata Strategis China, Inisiatif 'Gold Road' Perkuat De-Dolarisasi

Emas Jadi Senjata Strategis China, Inisiatif 'Gold Road' Perkuat De-Dolarisasi

Belanja Online 




Berita Thursday, 27 August 2026

Emas Jadi Senjata Strategis China, Inisiatif 'Gold Road' Perkuat De-Dolarisasi

Share to:

Menurut laporan mendalam S&P Global yang mengulas tuntas pasar emas China — mulai dari regulasi, permintaan konsumen, produksi tambang, hingga peran bank sentralnya — emas kini berstatus 'mineral strategis' di mata pemerintah China. Dilansir Kitco News, laporan ini menjelaskan bagaimana Beijing memanfaatkan hubungan internasionalnya untuk menempatkan emas di jantung perencanaan ekonomi sekaligus pertahanan negara.


Ternyata dorongan globalisasi emas China sempat melambat gara-gara pandemi COVID-19, tapi bangkit lagi dengan urgensi baru sejak 2022. Tahun itu, sanksi Barat membekukan cadangan devisa Rusia akibat perang Rusia-Ukraina — kejadian yang bikin para pembuat kebijakan China makin waspada dan menaikkan pamor emas sebagai cara mengurangi risiko serupa. Sejak momen itu, tujuan keamanan nasional seperti memperkuat ketahanan ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada pihak asing jadi prinsip utama di balik kebijakan China.


Yang menarik, People's Bank of China (PBOC, bank sentral China) kembali rajin memborong emas sejak akhir 2022, sementara Shanghai Gold Exchange (SGE, bursa emas Shanghai) juga menghidupkan lagi komitmennya pada inisiatif 'Gold Road' yang sudah digagas sejak 2019. Gold Road — kadang disebut juga 'Gold Corridor' — bertujuan mendorong perdagangan dan penyelesaian transaksi emas berbasis yuan secara global. Target utamanya adalah negara-negara anggota BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, dan mitra lainnya) serta negara-negara dalam program Belt and Road, sekaligus memperkuat jejaring dagang dan diplomasi China di kawasan Global South.


Bagian terbaru dari inisiatif ini adalah rencana membangun jaringan vault (brankas penyimpanan) emas global yang mendukung perdagangan emas berbasis yuan sekaligus konversi yuan jadi emas fisik yang disimpan di vault tersebut. Vault pertama sudah berdiri di Hong Kong pada 2025, dilengkapi dua kontrak emas berbasis yuan yang bisa diselesaikan lewat mata uang China atau pengiriman emas fisik langsung ke vault baru itu. Lokasi potensial lain yang disebut-sebut jadi target berikutnya termasuk Singapura, Kuala Lumpur, Dubai, Riyadh, dan Moskow.


Vault di Hong Kong International Airport ini, yang dimiliki dan disertifikasi SGE serta dioperasikan Bank of China (Hong Kong) Ltd., punya kapasitas awal 150 ton. Menariknya, Hong Kong berencana melipatgandakan kapasitas penyimpanan emasnya hingga sepuluh kali lipat jadi lebih dari 2.000 ton dalam tiga tahun ke depan untuk menjadikan kota itu 'pusat penyimpanan emas regional'. Sebagai gambaran, angka itu nyaris menyamai seluruh cadangan emas China, sekitar sepertiga dari emas yang disimpan di Federal Reserve Bank of New York (salah satu bank sentral regional AS), atau 40% dari cadangan emas yang ada di Bank of England, London. Depository ini beroperasi di bawah sistem manajemen SGE dan didukung sistem kliring terpusat untuk perdagangan emas yang mulai diuji coba sejak 7 Juli 2026.


S&P Global memperkirakan China bakal terus menjalankan rencana-rencana emas seperti ini seiring ketegangan dan konflik yang terus bermunculan di berbagai belahan dunia. Yang penting, langkah-langkah ini menggabungkan tujuan kebijakan lama dengan pertimbangan keamanan yang baru — dan di tengah dunia yang makin tidak pasti, satu hal yang mungkin pasti adalah peran China di pasar emas global akan terus membesar. Buat yang penasaran memantau pergerakan harga emas dunia atau ingin melihat langsung pilihan emas batangan, Anekalogam di Mall Artha Gading atau anekalogammulia.com bisa jadi tempat singgah yang pas.