Dalam wawancara dengan Kitco News, LaForge menjelaskan logika di balik pasar emas sebenarnya sederhana. "Menurut saya harga emas akan mencapai puncaknya kalau kita sudah tahu cara mengatasi soal utang," katanya. Selama pemerintah terus menumpuk utang tanpa membayarnya kembali, semakin tinggi pula ruang harga emas untuk naik. Ditanya soal target $8.000, $10.000, bahkan $12.000 per ons, LaForge bilang angka-angka itu bukan hal yang penting buat dia. "Yang saya tahu, tren ini naik terus sampai kita mengatasi utang pemerintah," ujarnya. Dilansir Kitco News, ia menambahkan masih ada peluang harga naik multi-tahun ke depan karena secara global belum ada tanda-tanda politisi dan pemimpin negara mau serius mengatasinya.
Menariknya, kalau ditarik dari sisi historis, harga emas sudah melesat dari sekitar $1.500 per ons jadi lebih dari $4.000 per ons dalam satu dekade terakhir (dengan kurs sekitar $128 per gram di level $4.000/ons, mengingat 1 ons troy setara 31,1035 gram). Meski begitu, LaForge melihat pasar baru berada di tahun keenam atau ketujuh dari siklus super komoditas yang lebih besar, dan belum ada tanda-tanda tren jangka panjang ini mendekati titik jenuh. "Kita masih punya banyak ruang untuk ini," katanya.
Yang membuat siklus kali ini beda, kata LaForge, adalah peran bank-bank sentral yang jadi sumber permintaan struktural baru karena mereka mulai mempertimbangkan ulang keamanan aset cadangan tradisional. Pergeseran ini makin kencang sejak invasi Rusia ke Ukraina tahun 2022 dan pembekuan cadangan devisa Rusia setelahnya. Menurutnya, kejadian itu bikin bank sentral sadar bahwa aset yang disimpan di dalam sistem kredit global tetap bisa terkena kontrol pemerintah. Emas, di sisi lain, jadi salah satu "bearer asset" alias aset fisik yang bisa dipegang langsung di luar sistem itu. "Tidak banyak aset semacam itu yang bisa dipegang bank sentral, di mana hampir semua orang di dunia setuju kalau dikirimi satu batang emas, mereka bakal bilang, oke saya terima itu sebagai pembayaran," jelasnya.
Di sisi lain, pembengkakan utang pemerintah yang luar biasa besar menciptakan angin dorong yang makin kuat buat aset-aset riil seperti emas. LaForge melihat sedikit sekali jalan keluar yang secara politik bisa diterima selain akhirnya melakukan debasement mata uang, alias menggerus nilainya lewat pencetakan uang. "Tidak ada cara buat membayar utang ini selain menggerus semuanya," katanya. "Ini adalah angin dorong terbesar yang pernah dimiliki emas." Amerika Serikat sendiri jadi sorotan belakangan ini setelah utang pemerintahnya menembus $40 triliun. Yang penting, LaForge bilang Jepang bisa jadi peringatan buat negara-negara maju lain yang utangnya menumpuk. Para pembuat kebijakan di Barat sempat berharap Jepang bisa membuktikan pemerintah bisa menekan biaya pinjaman tanpa batas lewat kontrol kurva imbal hasil (yield-curve control) meski utangnya sangat besar. Nyatanya, kenaikan imbal hasil obligasi Jepang dan pelepasan kebijakan moneter ultra-longgar yang sudah berjalan puluhan tahun malah menunjukkan batas dari strategi itu.
LaForge mengaku tetap optimistis terhadap emas sepanjang koreksi berbulan-bulan yang terjadi, sementara utang pemerintah terus bertambah. Ia bilang perdagangan debasement kembali menyala gara-gara intervensi Departemen Keuangan AS di pasar, dan koreksi harga emas kemarin cuma pasar yang lagi menunggu katalis berikutnya. Satu sinyal penting yang ia pantau adalah momentum jangka panjang emas. Meski harga sempat mencetak rekor tertinggi tahun ini, tidak satu pun indikator yang ia pantau menunjukkan tanda-tanda "blow-off top" yang biasanya muncul menjelang akhir siklus super komoditas. "Zero," katanya tegas. Menurutnya, momentum emas saat ini lebih mirip pergerakan "middle-cycle" alias pertengahan siklus, dibanding euforia spekulatif yang terlihat menjelang puncak tahun 2011.
Soal strategi portofolio, LaForge menyarankan investor membangun alokasi minimal 10% ke aset alternatif, dengan rincian sekitar 5% ke emas, 3% ke keranjang komoditas yang lebih luas, dan 2% ke Bitcoin. Emas dapat porsi terbesar karena dianggap paling langsung terkena dampak tekanan struktural dari utang dan moneter yang sedang berlangsung. "Emas punya momen unik dalam sejarah," kata LaForge. "Ini waktunya semua faktor itu berkumpul jadi satu." Ia menutup dengan analogi yang cukup menohok soal laju kenaikan emas belakangan ini: "Ini belum benar-benar keluar jalur, tapi ibaratnya kereta yang tadinya jalan 40 mil per jam sekarang jadi 120. Kita harus memperlambat ini, atau kita nggak bakal tetap di rel." Buat kamu yang mau mulai memantau atau menyimpan emas fisik sebagai bagian dari portofolio, boleh banget mampir ke Anekalogam di Mall Artha Gading atau cek pilihan produknya di anekalogammulia.com