Survei tersebut menunjukkan betapa sulitnya emas membangun kembali keyakinan pasar. Dari 13 analis yang berpartisipasi, enam orang atau 46% memperkirakan harga turun pada pekan berikutnya. Hanya tiga analis atau 23% yang memprediksi kenaikan. Empat lainnya, atau 31%, belum bisa menentukan arah harga atau menggambarkan pergerakan Mendatar. Artinya, pandangan pesimistis menjadi kelompok terbesar, meski belum mencapai mayoritas. Pergeseran sikap investor ritel menambah gambaran kehati-hatian ini. Namun, hasil survei tetap merupakan pandangan responden tentang pekan mendatang, bukan kepastian bahwa harga akan bergerak sesuai perkiraan mereka.
Tekanan harga sepanjang pekan menjelaskan perubahan suasana tersebut. Emas di pasar spot, yaitu pasar dengan harga transaksi saat ini, mengawali perdagangan Minggu malam di 4.277,90 dolar AS per ons troi. Harga sempat mencapai puncak mingguan 4.280,56 dolar AS pada Senin, sebelum tekanan penjualan mengambil alih. Pada hari Kamis, emas menyentuh titik terendah pekan itu di 4.110,95 dolar AS per ons troi. Dengan 1 ons troi setara 31,1035 gram, angka terakhir kira-kira setara 132,17 dolar AS per gram. Ini merupakan estimasi ekuivalen harga spot global, bukan harga jual emas Antam.
Pendorong tekanan itu saling berkaitan. Kenaikan harga minyak yang terkait konflik AS–Iran mempertahankan kekhawatiran inflasi. Pasar kemudian terus memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve atau The Fed, bank sentral AS. Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah AS berjangka panjang meningkat dan dolar AS menguat. Obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi menjadi pesaing bagi emas, yang tidak membayar bunga. Penguatan dolar juga membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Kombinasi tersebut mengalahkan dukungan dari permintaan emas sebagai aset perlindungan saat situasi tidak pasti.
Menariknya, laporan pekerjaan September sempat memberi kesempatan emas untuk pulih pada hari Jumat. Perekonomian AS hanya menambah 29.000 pekerjaan, tingkat kemiskinan naik menjadi 4,2%, dan angka pekerjaan Juli serta Agustus direvisi turun. Data ini mengurangi peluang kenaikan suku bunga Oktober serta sempat menekan dolar dan imbal hasil obligasi. Namun, dorongan tersebut tidak bertahan. Setelah gagal bertahan di atas 4.200 dolar AS per ons troi, emas kembali turun tajam. Menjelang akhir perdagangan pekan itu, harganya hanya mencapai 15 dolar AS dari titik terendah sesi Jumat. Respons ini menunjukkan pemulihan harga masih rapuh.
Pandangan para pelaku pasar tetap terbelah. Adrian Day, Presiden Adrian Day Asset Management, berpikir emas masih bisa turun dalam waktu dekat, meski tekanan itu menurutnya tidak akan berlangsung lama. Ia menilai jeda kenaikan suku bunga dapat memberikan kelegaan bagi emas. Sebaliknya, Rich Checkan, Presiden Asset Strategies International, mengatakan kenaikan karena data pekerjaan yang lemah mengurangi ekspektasi pengetatan kebijakan. Sean Lusk dari Walsh Trading menyoroti kegagalan harga mempertahankan respons positif terhadap data tersebut. Sikapnya netral hingga cenderung mengisyaratkan kenaikan, tetapi keyakinannya terbatas. Perbedaan ini menunjukkan belum adanya kesepakatan tentang arah pemulihan.
Bagi pembeli emas di Indonesia, jalur pengaruhnya melewati harga emas global dan kurs rupiah terhadap dolar AS. Ketika harga internasional turun, pelemahan rupiah dapat mengurangi dampak penurunan tersebut dalam hitungan rupiah. Sebaliknya, penguatan rupiah dapat menambah pengaruh penurunan harga global. Oleh karena itu, perubahan harga dalam dolar AS tidak secara otomatis menghasilkan perubahan yang sama dalam rupiah. Yang penting dari berita ini adalah hubungan antara ekspektasi suku bunga, imbal hasil obligasi, dolar, dan kemampuan emas mempertahankan kenaikan. Untuk mengenal produk emas dan mendapatkan informasi lebih lanjut, kunjungi Anekalogam di Mall Artha Gading atau anekalogammulia.com.