Emas Berisiko Koreksi ke 4.000 Dolar AS, Doshi Tetap Proyeksikan 5.000

Emas Berisiko Koreksi ke 4.000 Dolar AS, Doshi Tetap Proyeksikan 5.000

Dalam wawancara yang dimuat pada 28 September 2026, Kepala Strategi Emas State Street Investment Management itu memperingatkan risiko koreksi jangka pendek. Harga emas berpotensi kembali mendekati 4.000 dolar AS per ons troi dalam sepekan berikutnya, meski Doshi memperkirakan level tersebut mampu menjadi penahan penurunan. Sebagai gambaran, angka itu setara kira-kira 128,60 dolar AS per gram, dengan konversi 1 ons troi = 31,1035 gram. Ini merupakan nilai setara harga emas global, bukan harga ritel emas di Indonesia. Pandangannya memuat dua hal sekaligus: tekanan dalam waktu dekat dan peluang kenaikan setelahnya.


Pemicunya adalah perubahan perkiraan pasar terhadap kebijakan The Fed, bank sentral AS. Menurut Doshi, sejak pertengahan Agustus, pasar telah memperhitungkan dua kenaikan suku bunga tambahan. Ekspektasi suku bunga untuk jangka yang lebih panjang juga ikut bergeser. Imbal hasil nominal dan riil, yaitu imbal hasil setelah memperhitungkan inflasi, meningkat bersamaan dengan penguatan dolar AS. Kombinasi ini menekan daya tarik emas yang tidak memberikan bunga. Doshi menilai pasar sedang sangat kuat mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Akibatnya, jalan menuju proyeksi harga tersebut menjadi lebih menantang, meski belum tertutup.


Menariknya, Doshi melihat kenaikan suku bunga tidak menyelesaikan persoalan fiskal jangka panjang Amerika Serikat dan sejumlah ekonomi besar lainnya. Biaya pinjaman yang lebih tinggi justru menambah beban pembayaran bunga utang pemerintah. Dalam laporan emas September, State Street mencatat tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang mencapai level tertinggi sejak 2011 di AS, Inggris, Prancis, dan Jerman. Pendorongnya mencakup kekhawatiran terhadap kredibilitas institusi, inflasi yang bertahan, serta ketidakseimbangan fiskal dan bertambahnya pasokan surat utang pemerintah AS. Utang publik AS sendiri melampaui 40 triliun dolar AS pada Agustus.


Karena itu, menurut State Street, alasan di balik kenaikan imbal hasil sama pentingnya dengan besar kenaikannya. Doshi mengingatkan bahwa sebelum pandemi, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada sekitar 1,5%. Ia menilai hanya sedikit investor saat itu akan membayangkan bahwa enam setengah tahun kemudian, imbal hasil tersebut bisa berada sekitar 5,3%, sementara emas tetap mendekati 4.000 dolar AS per ons troi. Baginya, ketahanan ini menunjukkan adanya penopang permintaan di luar hubungan emas dengan suku bunga. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan ketidakpastian kebijakan tetap memberi alasan bagi investor untuk memiliki emas.


Penopang lainnya datang dari permintaan fisik dan investasi. State Street mencatat impor emas nonmoneter China mencapai rekor 1.000 ton selama tujuh bulan pertama 2026, naik 78% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan itu terjadi meski harga emas lokal rata-rata sekitar 45% lebih tinggi secara tahunan. Di sisi investasi, dana berbasis emas yang diperdagangkan di bursa atau exchange-traded fund (ETF) secara global menerima aliran masuk 17,1 miliar dolar AS pada Agustus. Dana yang tercatat di AS memperoleh 7,9 miliar dolar AS, menjadi bulan terkuat sejak September 2025. Doshi juga menyebut aliran masuk selama September menunjukkan minat investasi tetap bertahan ketika harga turun.


Yang penting bagi pembaca Indonesia, proyeksi Doshi tetap merupakan perkiraan, bukan kepastian harga. Tekanan suku bunga dan dolar AS masih berhadapan dengan permintaan fisik serta kebutuhan perlindungan terhadap ketidakpastian kebijakan. Harga global dalam dolar AS memberi konteks, sementara nilai setaranya dalam rupiah juga bergantung pada kurs dolar AS terhadap rupiah. Karena itu, angka global tersebut tidak bisa langsung dibaca sebagai harga ritel emas di Indonesia. Untuk mengenal produk dan informasi emas lebih lanjut, kunjungi Anekalogam di Mall Artha Gading atau anekalogammulia.com.