Harga emas di pasar spot, yaitu pasar dengan harga untuk transaksi saat ini, berada di sekitar 4.159,11 dolar AS per ons troi, naik 0,10% pada sesi tersebut. Nilainya setara sekitar 133,72 dolar AS per gram, menggunakan konversi 1 ons troi = 31,1035 gram. Ini merupakan perkiraan nilai emas global, bukan harga jual emas Antam. Kenaikan tipis tersebut memperlihatkan dukungan yang masih terbatas. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 5,30%, setelah sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada perdagangan hari itu.
Menariknya, ekspektasi kebijakan jangka pendek dan kondisi pasar obligasi belum bergerak searah. Data inflasi belanja konsumsi pribadi yang lebih rendah pada Rabu menahan perkiraan kenaikan suku bunga Oktober oleh Federal Reserve atau The Fed, bank sentral AS. Ekspektasi tersebut masih jauh di bawah posisi pekan sebelumnya. Namun, klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197.000, lebih rendah daripada perkiraan, sehingga menunjukkan pasar tenaga kerja tetap tangguh. Laporan manufaktur juga memperlihatkan aktivitas pabrik hanya sedikit melemah, sementara harga bahan baku menguat. Tekanan inflasi ternyata belum sepenuhnya mereda.
Pertemuan dua kondisi itu menjadikan laporan pertambahan pekerjaan di luar sektor pertanian pada Jumat sebagai perhatian utama pasar. Jika hasilnya lebih kuat daripada perkiraan, pasar berpotensi kembali memperhitungkan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama. Dampaknya dapat menekan emas melalui kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS. Sebaliknya, pertumbuhan pekerjaan yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mempertahankan suku bunga. Jadi, dukungan terhadap emas masih bergantung pada data berikutnya. Meredanya perkiraan kenaikan bunga belum berarti tekanan dari pasar obligasi ikut berakhir.
Dari pasar energi, turunnya harga minyak membantu mengurangi tekanan inflasi dalam waktu dekat. Pemulihan ekspor minyak dari kawasan Teluk dan kenaikan persediaan minyak AS yang melebihi perkiraan mendorong Brent kembali ke bawah 100 dolar AS per barel. Minyak WTI, singkatan dari West Texas Intermediate, diperdagangkan sekitar 90,99 dolar AS per barel. Namun, ketidakpastian hubungan AS dan Iran masih membayangi pasar. Kontak diplomatik yang melibatkan Qatar berlanjut, tetapi belum ada terobosan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz maupun persoalan sanksi. Situasi ini tetap menopang permintaan aset yang dianggap lebih aman.
Dari sisi teknikal, area 4.190,00 hingga 4.210,63 dolar AS per ons troi menjadi hambatan awal bagi kenaikan emas. Jika harga mampu melewati dan bertahan di atas area tersebut, sasaran kenaikan berikutnya berada di 4.238,00, lalu 4.254,44 dolar AS per ons troi. Sebaliknya, penurunan melewati 4.136,44 dolar AS per ons troi membuka risiko menuju 4.112,00, kemudian 4.073,00 dolar AS per ons troi. Level tersebut menggambarkan area yang diperhatikan dalam analisis teknikal, bukan kepastian arah harga. Perubahan data tenaga kerja tetap bisa mengubah respons pasar.
Bagi pembeli emas Indonesia, hubungan dengan pasar global berjalan melalui harga emas dalam dolar AS dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena itu, kenaikan emas global tidak otomatis menghasilkan perubahan dengan persentase yang sama pada nilai emas dalam rupiah. Penguatan dolar terhadap rupiah dapat menambah pengaruh kenaikan harga global, sementara penguatan rupiah dapat meredamnya. Yang penting, angka spot global dibaca sesuai konteksnya, bukan langsung dianggap sebagai harga emas ritel di Indonesia. Untuk mengenal pilihan produk emas lebih dekat, kunjungi Anekalogam di Mall Artha Gading atau anekalogammulia.com.