Harga emas di pasar spot turun pada perdagangan akhir Rabu, 30 September 2026, dilansir Kitco News. Saat laporan ditulis, emas diperdagangkan mendekati 4.156,10 dolar AS per ons troi, turun 0,60% pada sesi tersebut. Nilainya setara kira-kira 133,62 dolar AS per gram, menggunakan konversi 1 ons troi = 31,1035 gram. Angka per gram ini merupakan estimasi harga spot global, bukan harga emas ritel di Indonesia. Perak juga melemah, turun 1,90% ke sekitar 60,180 dolar AS per ons troi. Pergerakan kedua logam menunjukkan bahwa kabar inflasi yang lebih sejuk belum mampu mengatasi tekanan dari pasar obligasi.
Menariknya, data inflasi sebenarnya memberi alasan bagi pasar untuk mengurangi kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga. Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Agustus naik 0,3% secara bulanan dan 3,4% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan. PCE inti naik 0,2% secara bulanan dan 3,0% secara tahunan. Setelah data tersebut, peluang kenaikan suku bunga Oktober oleh The Fed, bank sentral AS, turun menjadi sekitar 37,1% dari sekitar 70,9% pekan sebelumnya. Perubahan ekspektasi ini mendukung emas karena mengurangi kekhawatiran bahwa bunga akan kembali dinaikkan dalam waktu dekat.
Namun, pasar obligasi jangka panjang bergerak ke arah yang berbeda. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 5,29%, sementara tenor 30 tahun bertahan mendekati 5,65%. Imbal hasil mencerminkan tingkat pengembalian obligasi berdasarkan harga pasarnya. Ketika tingkat pengembalian itu meningkat, emas menghadapi persaingan lebih besar dari aset yang memberikan pendapatan bunga. Emas sendiri tidak membayar bunga. Inilah mekanisme utama di balik pelemahan harga: berkurangnya perkiraan kenaikan suku bunga belum diikuti penurunan imbal hasil jangka panjang. Indeks dolar AS juga masih kuat meski sudah turun dari posisi tertinggi dua bulan.
Ketahanan ekonomi AS ikut menjelaskan mengapa tekanan tersebut belum mereda. Laporan Automatic Data Processing (ADP), penyedia layanan penggajian, menunjukkan penambahan 90.000 pekerjaan swasta pada September, melampaui perkiraan. Pertumbuhan produk domestik bruto kuartal kedua juga direvisi menjadi 2,2% dalam laju yang disetahunkan, dari sebelumnya 1,5%. Perhatian berikutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan September yang dijadwalkan Jumat pukul 08.30 waktu AS bagian timur. Menurut analisis laporan tersebut, hasil yang lebih lemah dapat memperkuat perubahan ekspektasi suku bunga yang mendukung emas. Sebaliknya, hasil lebih kuat berpotensi mempertahankan tekanan melalui imbal hasil obligasi.
Risiko energi turut membuat arah harga emas belum tegas. Perundingan damai AS dan Iran masih buntu, sementara situasi Selat Hormuz belum terselesaikan. Pemulihan ekspor dari kawasan Teluk belum menghapus risiko gangguan pasokan. Minyak Brent ditutup mendekati 103,50 dolar AS per barel, sedangkan minyak West Texas Intermediate (WTI) sekitar 90,42 dolar AS per barel. Harga energi yang tinggi dapat mempertahankan tekanan inflasi dan imbal hasil jangka panjang. Jadi, emas menerima dua pengaruh yang berlawanan: perkiraan kenaikan suku bunga berkurang, tetapi tekanan dari energi dan obligasi tetap bertahan.
Bagi pembaca Indonesia, yang penting adalah membedakan harga spot global dengan harga emas yang ditemui di pasar lokal. Harga global dinyatakan dalam dolar AS, sehingga kurs rupiah ikut menentukan nilai setaranya dalam rupiah. Tanpa kurs bertanggal yang sesuai, angka dalam laporan ini tidak dapat langsung dinyatakan sebagai harga rupiah per gram, terlebih sebagai harga ritel Antam. Untuk mengenal produk emas dan memperoleh informasi lebih lanjut, kunjungi Anekalogam di Mall Artha Gading atau anekalogammulia.com.